Aku menatap ombak yang saling berkejaran tanpa hentinya. Seperti rindu yang tak pernah berhenti menghadirkan bayangmu dipikiranku. Di ujung sana mentari tersipu-sipu malu menghadirkan senja yang indah. Seindah senyumanmu yang selalu tersipu malu ketika aku menggengam tanganmu. “Kamu jangan bergerak!” ucapmu setengah marah ketika aku sibuk bermain pasir saat kamu menggunting kuku panjangku. Aku menatap wajahmu yang tersenyum dan memamerkan lesung pipimu. Aku menemukan ketenangan disana. Itu alasan kenapa aku selalu ingin bersamamu. Aku menikmati wajahmu dibalik senja. “Maafkan aku!” ucapmu setelah memotong kuku di kesepuluh jariku. “Maaf? Maaf untuk apa?” tanyaku penasaran. Diam. Bisu.